Filter Air

Air yang mengandung zat besi atau zat mangan tidak baik bagi kesehatan. Untuk mengatasinya dibutuhkan filter air yang bahan - bahan nya terdiri dari: pasir kuarsa, manganesse GreenSand, Zeolite dan karbon aktif. Filter tersebut cukup efektif mengatasi masalah di atas. (02 July 2008)


LATAR BELAKANG

Salah satu permasalahan yang sering di alami oleh para penghuni rumah baru adalah masalah kualitas air tanah yang tidak memenuhi standar layak konsumsi. Dalam hal ini penulis sendiri telah mengalami masalah ini sejak menempati rumah baru di sebuah wilayah di daerah Ciputat, Tangerang. 

Permasalahan utamanya adalah air tanah ternyata mengandung zat besi dan / ataupun mangan. Akibat yang pasti adalah air tanah tidak layak dikonsumsi, selain itu bau yang tidak sedap, meninggalkan noda kuning di wadah, dan menimbulkan endapan lumpur kuning di bak mandi apabila lama tidak di kuras. Untuk memastikan apakah memang benar air tersebut mengandung zat besi dapat digunakan air teh. Cukup dengan menuangkan satu sendok teh air tanah ke dalam segelas air teh maka mulailah ada perubahan warna teh mejadi gelap atau kehitam - hitaman. Jika memang demikian maka sudah dapat dipastikan air tanah contoh tersebut mengandung zat besi.

ALTERNATIF SOLUSI

1. SUMUR BOR DALAM

Banyak usaha yang dilakukan penulis untuk mengatasi permasalahan air keruh dan kuning yang disebabkan oleh kandungan zat besi maupun zat mangan dari sumur air. Diantaranya dengan memperdalam sumur air hingga mencapai kedalaman 40 m dengan casing mencapai 28 m yang berfungsi mencegah masuk nya air tanah bagian atas, namun usaha ini tidak membuahkan hasil yang diharapkan karena pada kedalaman di atas itu terdapat lapisan lempung yang kedap air sehingga air sulit di dapat. Selain itu kemampuan mesin pompa zet pump yang ada terbatas.

Untuk memperoleh air artesis tidaklah ekonomis selain biaya pengeboran yang lebih mahal, di butuhkan mesin pompa yang kuat dan boros tenaga juga diperlukan izin kepada pihak terkait sehubungan dengan pengeboran untuk mencapai air artesis di kedalaman lebih dari 150 m.
Bisa saja pengeboran dilakukan pada lokasi yang berbeda namun hal ini bersifat spekulasi selama kita tidak dapat mengetahui secara pasti dan tepat dimana lokasi sumber air bersih itu berada. Sebagai gambaran bahwa lokasi perumahan yang kami tempati dahulunya (sekitar 15 tahun yang lalu) adalah sawah atau rawa. Berdasarkan pengamatan yang kami lakukan sepertinya di bawah lapisan tanah perumahan kami memiliki lapisan pasir hitam yang mengandung zat besi dengan ketebalan lapisan bervariasi sekitar 50-an m. Kalau dibayangkan sepertinya lokasi perumahan berada di lapisan tanah dahulunya mungkin sebuah jurang yang dalam, dimana lama kelamaan terjadi proses pengendapan pasir yang di bawah dari hulu karena memang posisi aliran sungai berliku di lokasi tersebut.

2. FILTER AIR TANAH

Akhirnya penulis memilih untuk menggunakan filter air yang banyak di pasarkan di media massa. Filter air ini memiliki ukuran dimensi tinggi 1.6 m dan diameter sekitar 25 cm dengan komposisi media filter terdiri dari karbon aktif, zeolite dan mangane green sand. Pada 3 bulan pertama kami merasa cukup puas dengan kemampuan filter air dimana debit air yang dikeluarkan hanya berkurang sedikit dan kualitas air lebih baik. Namun setelah masa itu kemampuannya semakin berkurang walaupun kami telah berupaya untuk selalu membersihkan media filter dengan cara menguras kemudian membilasnya dengan air bersih setiap seminggu sekali. Setelah itu penulis selalu bereksperimen dengan berbagai komposisi media filter maupun dengan menggunakan Permangan Kalium (PK) untuk mengaktifkan kembali daya filter media terutama manganesse green sand.

Menggunakan media manganesse green Sand dengan ukuran butiran antara 1 mm - 1.5 mm saja sebanyak 20 kg memang lebih baik dibandingkan menggunakan bahan zeolite tidaklah terlalu menggembirakan. Dikatakan oleh banyak penjual kemampuan media ini 10 kali lipat lebih baik dibandingkan zeolite. Pernah juga penulis menggunakan abu gosok sebanyak 3 kg sebagai tambahan pada media namun hasil yang diperoleh tidak jauh berbeda.

Penulis sengaja tidak mencoba 3 jenis media filter sekaligus ke dalam satu tabung karena memang ingin mengetahui perbedaan kemampuan dari tiap jenis media filter tersebut. Akhirnya sampailah pada suatu hari ada keinginan untuk menggunakan arang batok kelapa yang banyak di jual di pasaran untuk konsumsi para pedagang sate dan sejenisnya sebagai bahan media filter tambahan atas media yang ada yaitu manganese green sand campur pasir kuarsa. Sebelumnya arang yang masih berbentuk batok kelapa ukuran besar ditumbuk dengan palu untuk memperoleh ukuran butiran yang lebih kecil. Kemudian butiran dan pecahan maupun abu arang dimasukan seluruhnya ke dalam tabung filter. Pada saat pertama kali di coba butiran arang halus masih banyak keluar namun makin lama makin kecil, proses ini agak memakan waktu lama sekitar setengah harian. Namun setelah di coba satu hari, air bening tidak berubah warna dan tidak bau, dua hari berlalu, seminggu berlalu kualitas masih baik. Penulis coba untuk melakukan back wash untuk membersihkan kotoran yang ada di dalam tabung pada minggu pertama namun hanya sedikit sekali kotoran keluar, hanya butiran arang dengan jumlah sangay sedikit. Dua minggu berlalu, kualitas air masih baik tidak berkurang. Dan hingga tulisan ini di buat, minggu ke - 3, kualitas air dirasakan masih cukup baik. Sebagai catatan, sebelumnya penulis telah memasukan sekitar 35 kg zeolite ke dasar sumur air dengan harapan zeolite tersebut dapat berfungsi sebagai filter awal atau setidaknya merangsang kandungan besi agar teroksidasi. Penulis masih menunggu hingga berapa lama kualitas yang di harapkan ini mampu bertahan. Semoga ini menjadi solusi yang baik, mudah dan murah, amin.
 
Setelah menunggu hingga 3 minggu berlalu ternyata kualitas air menurun tidak sebaik sebelumnya. Akhirnya diputuskan untuk menimbun sumur bor dengan pasir zeolit sebanyak 2 karung atau sekitar 60 kg plus pasir kuarsa sebanyak 20 kg. Sebagai hasilnya kualitas air lebih baik bahkan ketika di coba menggunakan air teh, tidak menunjukan perubahan warna, tidak pula berbau. Media filter diganti seluruhnya menggunakan mangganese greensand sebanyak 20 kg plus arang batok kelapa yang telah dihaluskan sebanyak 3 kg. Didapati kualitas air menjadi semakin baik bahkan hingga telah berlalu selama hampir 2 minggu.

3. FILTER AIR TANAH TENAGA GRAVITASI

Slow sand water filter is somewhat a common water filter but it use the advantage of gravitational force to flow the water source into the filter in a slow speed while media of the filter can be vary from manganese, zeolite, quarzt sand, or ferrolite. The author has already tried to build a gravitational water filter with manganese green sand as the media. It show a satisfying result compared with the previous method due to its relatively reduce the ferro and or mangan contained in the water but also consistent in the quality over time, another advantage is that we need only a relatively simple backwash every two weeks while a washing of the media can be done at every 2 months.

Filter yang saya gunakan pada prinsipnya menggunakan metode aerasi di tambah sistem dosing serta memanfaatkan gaya gravitasi untuk mengalirkan air kotor melalui media filter. Total biaya kurang lebih 5 juta rupiah, mahal karena harus membangun konstruksi untuk dudukan dua torent. 

Bahan yang harus di siapkan berupa:
  1. Satu buah torent kapasitas 250 liter kita sebut saja torent1
  2. Satu buah torent kapasitas 500 liter atau yg lebih besar sesuai kebutuhan kita sebut saja torent2
  3. Mesin aerasi (penghasil gelembung udara yg biasa di pakai di kolam ikan) yg memiliki 6 atau 4 lubang keluaran udara.
  4. Mesin pompa pendorong (wassser atau booster pump) 60 watt.
  5. Mesin pompa air biasa...125 watt 
  6. Pengontrol level air torent untuk menghidupkan atau mematikan mesin pompa air secara otomatis
  7. Konstruksi dudukan torent1 yang lebih tinggi (misal 3 m) dari torent2 (ketinggian 1.5 m), bisa menggunakan konstruksi beton atau rangka besi.
  8. botol aqua kosong ukuran 600 ml untuk menampung PK, dosis 5 mg untuk 600 ml. gunakan sumbu kompor dan lubangi bagian bawah botol aqua (kecil saja) agar cairannya dapat mengalir melalui sumbu dengan kecepatan rendah
  9. tabung filter untuk menampung media filter ferrolite dan manganesse green sand.
Alur aliran air
  1. Air naik ke torent1, proses aerasi dan penggumpalan zat besi dan logam berat terjadi di torent1 karena adanya sistem dosing dan aerasi  
  2. Air mengalir ke tabung filter untuk menyaring gumpalan logam berat 
  3. air bersih naik menuju torent2 untuk penampungan akhir
  4. air keluar melalui kran2 dengan bantuan mesin pompa dorong.
  5. setelah mesin pompa dorong dapat di gunakan filter catridge ukuran 10" dengan media filter karbon aktif atau pasir kuarsa sesuai kebutuhan sebelum dapat di gunakan sebagai air bersih untuk mandi, cuci maupun sebelum di konsumsi.
Pemeliharaan dapat di lakukan setiap hari atau setiap dua hari sekali cukup (tergantung tingkat keparahan air) dengan membuang kotoran di tabung filter dengan membuka kran atas, sehingga kotoran dari torent1 dan tabung filter keluar, mengurangi beban filter dan mempertahankan kecepatan aliran air yang melalui filter. Selain itu perlu dilakukan pencucian media setiap sebulan sekali tergantung tingkat keparahan air.

Anda membutuhkan media filter? hubungi Handoko di alamt e-mail: handoko75 [at] gmail [dot] com atau click saya

Solusi lain dapat dilihat di http://www.ristek.go.id/file_upload/lain_lain/bencana_aceh/air_asin.htm

Handoko. E-mail: handoko75@gmail.com Donasi penelitian lebih lanjut

ac. 0706006677 an. Handoko BCA Melawai

srabutdotcom | 2011-11-10 05:38:23
Hingga saat ini filter tersebut masih berfungsi dengan baik. Alhamdulillah
tieto | 2011-09-03 15:31:32
mas filter airnya gmn sampai sekarang masih berfungsi tidak yah,mohon informasinya mas